Rabu, 15 Agustus 2012

Diam-Diam

diamdiam tanpa bisik
aku masih bertahan untuk tak berisik
bukankah aku selalu lebih dulu mencuri ketenangan
lantas memelas pada anak takdir yang nampak segan
maka kini, aku lebih menyukai diam
mencoba meredam
(jika) itu akan membuatku semakin bergegas
dengan sangat tegas

Garut, Agustus 2012

Minggu, 25 Maret 2012

Kau

Buruk sekali ceritamu, Tuan!
Mataku hampir layu tertusuk aroma busukmu
Bukankah kau mendapati peran utama dalam sandiwara Tuhan yang kau agungkan
Lantas mengapa bisu?!
Atau kau ingin kutampar dengan serpihan kaca di tanganku

Tunggu, bahkan untuk melakukan itu
Aku merasa jijik!

Jumat, 06 Mei 2011

Dasar Teater

Seringkali seseorang yang memerankan tokoh pada sebuah pertunjukan pentas teater mendapat kritikan karena permainannya dianggap jelek. Sebenarnya apa saja yang harus dipelajari dan diketahui oleh seseorang sebelum memerankan tokoh karakter di dalam peran. Hakikat seni peran adalah adalah meyakinkan penonton bahwa apa yang tengah dilakukan aktor itu benar dan sudah cukup. Intinya sekali lagi pemain dalam permainan harus mampu meyakinkan penonton.
Alat modal akting aktor adalah tubuh (raga) dan sukma (rasa), itulah yang seharusnya terus menerus diasah dan dilatih agar siap dalam menghadapi, menggali serta memainkan peran. Untuk itu ada beberapa langkah dan tahapan yang harus diperhatikan, sebagai berikut :
3 LANGKAH MENUJU SIAP RAGA (TUBUH)
1. Melatih kelenturan otot-otot anggota tubuh.
a. Leher, mata, mulut (expresi)’
b. Tangan (jari-jari, pergelangan, lengan, bahu)
c. Kaki (pergelangan lutut, tungkai, langkah)
2. Melatih pernafasan.
a. Bernafas dengan benar
b. Terkontrol
c. Pemupukan energi kreatif
3. Membaca dan mengeja huruf.
a. Membaca (kejelasan kata & suku kata)
b. Mengeja (huruf hidup & huruf mati)
4 LANGKAH MENUJU PENCIPTAAN
1. Melatih suara/vocal (eja – baca – paham – arah – rasa – cipta)
2. Mengasah daya pencapaian (artikulasi)
3. Memahami pengertian “suratan dan siratan”
4. Memperjkaya daya kehadiran
4 LANGKAH MENUJU TAHU & MENGERTI (MEMAHAMI)
1. Mengetahui, mempelajari & memahami sejarah teater dan budaya.
2. Menyerap pengetahuan umum.
3. Presentasi (mengasah daya ungkap.
4. Mengasah kemampuan, menganalisa dan menyimpulkan.
6 LANGKAH MENUJU SIAP SUKMA (RASA)
1. Konsentrasi dan fokus.
2. Observasi dan penyerapan (lingkungan – suasana – waktu)
3. Imajinasi (lingkungan – benda – suasana – waktu – peristiwa – kenangan)
4. Penghayatan (bentuk – irama – ritme – tempo – rasa)
5. Improvisasi (pemahaman – berkisah dengan cara berbeda)
6. Pembangunan karakter peranan (analisa – pengadeganan – jalinan – latar belakang – motivasi)
Jika langkah-langkah itu sudah dijalankan tapi masih juga ada hambatan, maka hal itu bisa terjadi karena kurang latihan, kutrang memahami, kurang konsentrasi, kurang energi, kurang motivasi. Apabila langkah-langkah diatas dianggap terlalu kompleks dan rumit, terutama lantaran harus disampaikan dalam bahasa yang sangat sederhana, maka cukup diambil langkah sederhana sebagai berikut :
  1. Calon aktor harus melatih seluruh anggota tubuhnya.
  2. Calon aktor harus tekun melatih kepekaan dan kemampuan daya ingat, konsentrasi, pengamatan imajinasi, serta ekspresi.
  3. Calon aktor harus rendah hati, disiplin, terbuka, punya tanggung jawab, menghargai orang lain, dan jujur.
  4. Calon aktor tidak bosan belajar.
  5. Calon aktor harus banyak membaca, mendengar dan melihat.

Rabu, 30 Maret 2011

Amboi

amboi tentu indah
namun sulit menemukan pelik
dekap, mendekap, meski tak luruh
ada hal yang tersangkut sewaktu berkata
tertinggal dengan sengaja
laksana pagi tak bertemu embun
menyesak dalam hening, tanpa kata

hanya ingin berjalan dengan layak
meski waktu
belum mahir menghapuskan perih

Bandung, 31 Maret 2011

Kamis, 24 Maret 2011

Bukan Nyanyian Angsa

berharap membeku. bisu. pilu. lantas kelu.
ini waktu benarnya tak terkira.
andai separuh hasrat bisa kau jinakan serupa peliharaan.
tentu kacang mustahil lupa akan kulitnya.
pun katak tak lagi seperti dalam tempurung.

aku yang layu.
terkadang membutuhkan engkau yang bebal

Bandung, 25 Maret 2011

Minggu, 20 Maret 2011

Limbung


sepi ini adalah musiman.
ketika kita diam-diam menciptakan riuh yang padam.

sepi ini adalah musiman.
setelah kita segan mengikuti doa angin yang rapuh.

aku bawakan ruh musim yang sama pada bait-bait sajak ini.
agar pesan hangat sampai ke telingamu yang lelah.

dengarkanlah, sebelum bayangan kita benar-benar hilang.

aku tak ingin samar dalam ingatanmu.
lalu kita sama-sama menangis.

karena tak ada yang lebih perih dari musim ini.

Bandung, 2009

Selepas Kenangan



bersama embun kau dekap sejengkal ranting
menusuk kesedihan tanah yang mengecup basah
lantas lepas
yang begitu dekat, katamu
sementara aku hanya sebagian dari titiknya
menjadi layak bagi reruntuhan daun yang menggigil
tangan yang menengadah
mungkin hendak melahirkan gerimis

dan

aku duduk bukan merayu
hanya belajar untuk menipu
bagaimana menyembunyikan luka

Bandung, 2008